Pilihan Tatalaksana pada anak dengan Penyakit Jantung Bawaan

Penyakit jantung bawaan (PJB) adalah kelainan atau cacat jantung yang sudah terjadi sejak dari dalam kandungan. Ada beberapa cara pandang yang kemudian menjadi dasar klasifikasi PJB ini. Klasifikasi menurut warna didasarkan pada kadar oksigen dalam darah arteri yg dapat memunculkan warna kemerahan (nonsianotik) atau kebiruan (kebiruan) pada anak, sehingga menurut cara pandang ini PJB diklasifikasikan menjadi PJB sianotik dan nonsianotik(asianotik). Cara pandang lain melihat dari kompleksitas defeknya, sehingga mengklasifikasikannya menjadi isolated ( simple, hanya satu macam defect saja), dan kompleks (gabungan dari bebrapa macam defect). Klasifikasi lainnya lagi dibuat berdasar cara pandang terhadap kondisi aliran darah ke paru melalui arteri pulmonalis, dibagi menjadi PJB dg aliran darah paru meningkat dan menurun. Ada yang membagi menurut klasifikasi fungsional, disebut dengan gagal jantung atau tidak gagal jantung. Ada yg memandangnya dg kombinasi PJB dengan kemungkinan sindrom atau kelainan bawaan lainnya, misalnya Down syndrome sering disertai juga dg adanya CAVSD, ToF, ADd dsb; di George syndrome, William syndrome, Marfan syndrome, isomerism, dsb dsb masih banyak lagi syndrome-syndrome lain yang berkombinasi dengan defek jantung.
Keadaan jantung serta kompleksitasnya merupakan landasan keputusn tatalaksananya, karena masing2 keadaan dan kompleksitas anatominya akan menentukan atau mempengaruhi bagaimana jantung itu berfungsi dan bagaimana dampaknya terhadap berbagai organ tubuh.
Secara umu ada 3 macam tatalaksana PJB, yaitu medikamentosa, intervensi dan konservatif. Ketiga maca tatalaksana tersebut selalu dikombinasi dengan tatalaksan nutrisi, perkembangan, preventif, dll. Tatalaksana medikamentosa adalah pemberian obat-obatan untuk anak PJB yang umumnya utk mengatasi keadaan gagal jantung, memperbaiki anemia, menjaga agar tidak sering terjadi serangan sianotik, mengatasi gangguan irama, dsb, tetapi terapi ini sama sekali tidak bertujuan untuk menutup/membuka/mengkoreksi defek, kecuali PDA yg terjadi pada prematuritas dan diketahui saat lahir.
Tatalaksana intervensi dibagi menjadi 2 cara pandang, menurut cara/ jenis dan menurut tujuan. Menurut caranya dibagi menjadi secara intervensi transkateter yang sering disebut sebagai non-bedah, dan secara operasi/bedah. Bila menurut tujuannya dibagi menjadi paliatif dan korektif. Paliatif adalah operasi antara, dan korektif adalah operasi final. Intervensi baik yang nonbedah scr transkateter maupun bedah sangatlah bervariasi. Teknik2 intervensi ditemukan oleh para ahli intervensi sejak jaman dulu. Sebagian teknik terus berkembang dan mengalami penyempurnaan penyempurnaan, sebagian lagi tidak dikembangkan lagi karena tidak memberikan harapan dan kualiitas hidup yang lebih baik pada si anak, sebagian tidak dilakukan lagi karena angka kematiannya sangat tinggi dalam masa intraoperasi segera setelah operasi dan dalam jangka waktu pendek, intinya outcomenya sangat jelek. Intervensi yang keberhasilannya sangat baik diantaranya adalah penutupan single defect, pada anak yg tidak disertai syndrome lainnya. Tatalaksana pada PJB kompleks yang dapat berhasil baik adalah Arterial switch pada TGA, koreksi ToF, Rastelli, dsb. Pada anak dengan syndrome selain PJBnya seringkali sulit diduga, misalnya penutupan ASD besar pada anak tanpa syndrome yg angka keberhasilan tinggi, bila dillakukan pada anak Down syndrome sering tidak berhasil dengan baik karena mereka tidak mampu beradaptasi dengan stress operasi yang sangat besar, dsb dsb. Hal2 tersebut akan menjadi pertimbangan yang sangat ketat oleh tim untuk memutuskan jenis tindakan/ tatalaksana apa yang akan dipilih. PJB sianosis yang kompleks selain kompleksitasnya itu sendiri kadang2 disertai tumbuhnya MAPCA yang terjadi secara alamiah banyak sedikit dan besar kecilnya, serta berbeda2 pada masing2 anak. Sementara pada isolated single defect dapat disertai juga dengan penyulit2 misalnya gagal jantung yg berat dan Hipertensi paru pada defect yang besar. Betbagai penyulit tersebut berisiko sangat besar selama tindakan maupun setelahnya.
Pilihan tatalaksana ketiga yang sangat penting adalah tatalaksana konservatif. Tatalaksana konservatif adalah tidak melakukan intervensi terhadap defect atau kecacatan yang ada. Keputusan ini diambil di antaranya dengan pertimbangan: belum ditemukannya teknik intervensi pd defek yang ada, posisi defek sulit dijangkau oleh dokter bedah, diketahui ada teknik operasinya tetapi diketahui angka kematiannya tinggi, disertai syndrome yang berat yang dapat meningkatkan komplikasi atau mortalitas, center tidak dapat melakukan dan tidak memungkinkan dilakukan rujukan, dsb,dsb. Pada intinya, tatalaksana ini dipilih karena dipertimbangkan tanpa melakukan suatu intervensi bedah, harapan dan kualitas hidup pada si anak akan lebih baik daripada bila dilakukan suatu intervensi bedah. Pilihan tatalaksana konservatif ini bukan betarti tidak dilakukan apa2, untuk sampai pada keputusan ini diperlukan tahap pemeriksaan diagnosis seperti lainnya yang diperlukan, dan anak sebaiknya tetap dalam pantauan dokter untk menjaganya tetap sehat dengan kualitas hidup yang baik sesuai dengan kemampuannya, sama juga seperti apa yang harus kita jaga untuk anak2 yang normal.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s