DEMAM BERDARAH DENGUE (2)

Patofisiologi atau proses abnormal fungsi tubuh pada DBD, yang penting dan dapat mengakibatkan keadaan yang mematikan, adalah kebocoran cairan dalam darah karena dinding pembuluh darah mengalami kerusakan sementara, sehingga cairan darah merembes kemana-mana. Terjadinya kebocoran cairan darah ini hampir selalu terjadi, sementara perdarahan tidak.

Kebocoran cairan darah pada DBD ini ibaratnya selang air yang dipakai untuk mengairi sawah, bila selangnya bocor, maka air yang sampai di sawah akan berkurang, bahkan air tersebut akan “mbleber” kemana-mana menyebabkan basah dan banjir di tempat yang tidak diinginkan.

Beratnya kebocoran pembuluh darah ini dapat dipantau antara lain dengan pemeriksaan darah dan ronsen dada, selain tentu saja terdapatnya keluhan dan tanda-tandanya pada pemeriksaan tubuh anak. Secara laboratoris, terdapatnya kebocoran cairan darah dapat dipantau dengan pemeriksaan hematokrit (Ht). Hematokrit akan meningkat bila terjadi kebocoran cairan darah. Semakin tinggi Ht, menunjukkan semakin berat kebocorannya.

(Hematokrit ini merupakan perbandingan antara jumlah sel darah merah atau eritrosit dengan cairan darah, satuannya adalah dalam persen. Maka bila cairan darah berkurang karena bocor, eritrosit menjadi relatif meningkat, maka nilai Ht meningkat. Keadaan yang menyerupai ini dapat dijumpai pada anak penderita penyakit jantung bawaan sianotik, contohnya Tetralogi Fallot, namun, mekanismenya berbeda. Pada PJB sianotik, peningkatan Ht terjadi karena penambahan jumlah eritrosit, sementara cairannya tetap. Jumlah eritrosit yang meningkat pada PJB sianotik merupakan mekanisme perlindungan tubuh untuk menambah angkutan oksigen yang dibutuhkan oleh sel-sel tubuh untuk sumber energi. Seperti diketahui, eritrosit merupakan pengangkut eritrosit dan mengedarkannya ke seluruh tubuh. Pada PJB sianotik, peningkatan Ht dan eritrosit ini merupakan keniscayaan).

Cara lain pemantauan terdapatnya kobocoran cairan adalah dengan melakukan pemeriksaan ronsen dada, melihat penumpukan cairan di rongga paru yang disebut sebagai efusi pleura. Pemeriksaan ini dilakukan untuk memperkirakan seberapa banyak kebocoran itu terjadi. Semakin banyak bocornya, semakin berbahaya kondisi anak.

Di bawah ini adalah contoh gambar ronsen dada anak yang sakit DBD berat.

Gambar 1. Efusi pleura tidak berat

Efusi pleura tidak berat

Pada gambar 1, nampak cairan efusi di sisi dada sebelah kanan (tampak berwarna putih, panah merah). Foto tersebut dibuat dengan posisi anak miring pada sisi kanan, disebut sebagai right lateral decubitus (RLD). Bila cairan tidak terlalu banyak seperti pada gambar tersebut, anak dapat saja belum nampak sesak napas, meskipun napasnya sudah mulai nampak cepat dan kadang batuk-batuk.

Bila berat, cairan efusi dapat memenuhi rongga dada dan mendesak paru, membuat anak mengalami sesak nafas dan kadang-kadang bahkan sampai memerlukan alat bantu nafas. Dapat dilihat pada gambar 2, di bawah ini.

Gambar 2. Efusi pleura berat

Efusi pleura berat

Pada gambar 2, cairan efusi sangat banyak memenuhi rongga dada sisi kiri sehingga rongga dada sisi kiri nampak putih (panah merah) dan tidak nampak jaringa paru yang berwarna kehitaman. Cairan yang sangat banyak tersebut mendesak jantung ke sisi kiri, sehingga paru sisi kiri juga menyempit (panah kuning). Pada keadaan efusi pleura yang berat ini, anak sangat sesak napas, dan bahkan seringkali hingga membutuhkan alat bantu napas (ventilator mekanik).

Tatalaksana

Tatalaksana utama DBD adalah dengan pengaturan dan pemberian cairan. Bila anak demam, banyaklah minum. Pada DBD biasanya disertai mual nyeri perut tidak mau minum, ini tandanya anak harus dirawat inap mendapatkan cairan melalui infus. Tidak banyak manfaatnya memaksa anak banyak minum dalam kondisi ini, karena penyerapan air minum dalam ususpun mungkin kurang baik dalam kondisi ini.

Bila anak demam 3 hari berturut-turut, periksakan ke dokter. Pada umumnya dokter akan memeriksa laboratorium darah, kadang-kadang pada saat itu parameter laboratorium masih normal, dan dokter akan melanjutkan pemantauan labnya setiap hari. Bila hasil lab sudah menunjukkan parameter terdapatnya infeksi dengue, biasanya dokter akan minta untuk rawat inap untuk pemantauan yang lebih teliti.

Kegawat-daruratan biasanya terjadi pada hari ke-5 demam, justru pada saat suhu tubuh mulai turun kembali ke normal. Dokter akan memantau keadaan anak dan laboratoriumnya, terdapatnya peningkatan Hemoglobin (Hb), Ht, dan penurunan trombosit dan lekosit, menunjukkan penyakit sedang berjalan. Hb, Oleh sebab itu menghitung lamanya demam sangat penting dan berkaitan dengan pengelolaan. Kadang-kadang demam tidak jelas tinggi sehingga anak tidak mengeluh, apalagi bila kita sebagai orang tua disibukkan oleh pekerjaan atau hal lainnya, sehingga awal mulai sakitnya tidak jelas. Hal-hal sedemikian ini yang kemudian membuat “dikira” sakit baru saja terjadi dan tiba-tiba anak sudah sakit berat.

Lawan DBD, berantas nyamuk aedes aegypti dengan tidak membiarkan nyamuk berkembang biak di air jernih. Propagandakan gerakan 3M + i: menutup, menguras, mengubur + peliharalah ikan.

Tetap sehat kuat anak-anak Indonesia.

Salam termanis,

Anindita

2 Comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s