UJI TAPIS PENYAKIT JANTUNG BAWAAN KRITIKAL (PJBK)

Penyakit jantung bawaan kritikal (PJBK) diterjemahkan dari critical congenital heart disease (CCHD)

PJB kritikal (PJBK) adalah sekelompok penyakit jantung bawaan kompleks yang memerlukan tatalaksana segera pada masa neonatus karena kemungkinan dapat mengakibatkan kematian terutama pada minggu pertama kehidupan.

Insidens penyakit jantung bawaan (PJB) adalah 6–10 tiap 1000 kelahiran hidup, menyebabkan 6-10% kematian dimasa bayi dan merupakan 20-40% penyebab kematian bayi dengan malformasi. Lima belas persen dari PJB tersebut merupakan PJB kritis (PJBK). Insidens gangguan fungsi organ yang berat akibat PJBK yang tidak terdiagnosis sebelum berusia 12 jam di Amerika Serikat diperkirakan sebesar 1/ 15.000 sampai 1/26.000 kelahiran hidup. Di Indonesia kemungkinan insidensnya lebih tinggi. Sakit berat dan kematian seringkali terjadi sebelum pasien mendapatkan tatalaksana yang tepat. Gambaran klinis PJBK ini seringkali tidak dikenali karena menyerupai penyakit lainnya, sehingga mengakibatkan keterlambatan diagnosis dan menyebabkan kematian sebelum diagnosis ditegakkan.

Di negara kita, bayi dengan PJBK tersebut dapat saja dijumpai lahir di dukun bayi, bidan, puskesmas, klinik pratama, praktek pribadi dokter umum, lahir di rumah sakit (RS) maupun datang ke IGD RS daerah.

Beberapa negara di luar negeri telah merekomendasikan untuk melakukan uji tapis oksimetri (alat untuk mengukur saturasi oksigen) pada setiap bayi baru lahir. Uji tapis ini bertujuan terutama untuk mendeteksi PJBK yang pada umumnya mengalami gangguan organ-organ tubuh akibat kekurangan oksigen (hipoksia) yang dapat mengakibatkan morbiditas dan mortalitas yang tinggi. Uji tapis ini terutama ditujukan untuk menjaring kemungkinan terdapatnya 7 PJB kompleks yaitu:

  1. hypoplastic left heart syndrome;
  2. pulmonary atresia;
  3. tetralogy of Fallot;
  4. total anomalous pulmonary venous return;
  5. transposition of the great arteries;
  6. tricuspid atresia;
  7. truncus arteriosus.

Jenis PJB selain PJBK tersebut di atas tidak merupakan target uji tapis ini, dan kemungkinan lolos (memberikan hasil pemeriksaan yang negatif) karena pada umumnya tidak mengakibatkan kekurangan oksigen dalam darah bayi. Penyakit lain yang mengakibatkan kekurangan oksigen, misalnya penyakit pada paru, dapat menghasilkan  hasil test positif, menyerupai PJBK di atas. Oleh sebab itu kemungkinan terdapatnya penyakit pada paru harus disingkirkan.

 Cara uji tapis PJBK dengan oksimetri

Setiap bayi sehat dilakukan uji tapis dengan pulse oxymetri pada tangan kanan dan salah satu kaki. Uji tapis dilakukan setelah bayi berusia 24 jam atau lebih, sebelum dipulangkan dari RS atau tempat bersalin. Uji tapis tidak dilakukan sebelum bayi berusia 24 jam untuk menghindarkan positif palsu.

  • Hasil uji tapis disebut negatif atau lulus (pass) bila SpO2 ≥   95% pada tangan kanan dan salah satu kaki atau terdapat selisih ≤ 3 % antara tangan kanan dan kaki.
  • Bila uji tapis menunjukkan hasil negatif, maka tidak diperlukan pemeriksaan lebih lanjut.
  • Uji tapis disebut positif bila dijumpai SpO2 < 90% pada tangan kanan dan salah satu kaki atau terdapat selisih > 3% antara tangan kanan dan kaki.
  • Bayi dengan hasil uji tapis positif  (tidak lulus/failed) tidak boleh dipulangkan dan diperiksa lebih lanjut dengan ekokardiografi untuk menegakkan atau menyingkirkan terdapatnya PJBK.
  • Kemungkinan terdapatnya infeksi dan penyakit paru yang memberikan gambaran klinis menyerupai PJBK harus disingkirkan.

  

Bagan alir Uji tapis PJBK pada bayi baru lahir dengan oksimetri

Diambil dari: http://pediatrics.aappublications.org/content/128/5/e1259.full?sid=5b232614-a0d4-40e1-925f-e0b395d3862e

Yang perlu diperhatikan juga adalah bahwa hasil pemeriksaan ini diperngaruhi oleh akurasi alat yang dipakai.

Rujukan:

  1. Oster M, Lee K, Honein M, Colarusso T, Shin M, Correa A. Temporal trends in survival for infants with critical congenital heart defects. Pediatrics. 2013;131:e1502-8.
  2. Schultz AH, Localio AR, Clark BJ, Ravishankar C, Videon N, Kimmel SE. Epidemiologic features of the presentation of critical congenital heart disease: implications for screening. Pediatrics. 2008;121:751-7
  3. Strategies for Implementing Screening for Critical Congenital Heart Disease http://pediatrics.aappublications.org/content/128/5/e1259.full?sid=5b232614-a0d4-40e1-925f-e0b395d3862e
  4. Screening for critical congenital heart disease in newborns. http://circ.ahajournals.org/content/130/9/e79
  5. Role of Pulse Oximetry in Examining Newborns for Congenital Heart Disease: A Scientific Statement from the AHA and AAP. http://pediatrics.aappublications.org/content/124/2/823?ijkey=b58606e3d5e0247a1cbfc144c6060ea390214a1d&keytype2=tf_ipsecsha

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s