ATRIAL SEPTAL DEFECT

Atrial septal defect seringkali disingkat dengan ASD. Dalam bahasa Indonesia disebut sebagai defek septum atrium. Dalam topik ini, selanjutnya kita sebut sebagai ASD saja.

ASD merupakan PJB asianotik, yaitu PJB yang tidak biru. Defek ASD terdapat pada sekat yang memisahkan serambi (atrium) kanan dan kiri. Sebagai akibatnya terjadi pirau (pintasan aliran darah) dari serambi kiri, yang berisi darah kaya oksigen, ke serambi kanan yang berisi darah miskin oksigen. Pirau ini mengakibatkan penambahan volume darah di serambi kanan, bilik kanan dan a pulmonalis, sehingga terjadi beban volume di ruang-ruang tersebut mengakibatkan terjadi pembesaran ruang jantung. Semakin besar defek maka akan semakin besar pula beban volume di ruang-ruang tersebut. Semakin banyak beban volume di ruang-ruang jantung tersebut, maka semakin besar ruang jantungnya karena terjadi dilatasi (“melar”). Bila pada keadaan tersebut dilakukan x foto dada, akan nampak sebagai pembesaran bayangan jantung, yang disebut sebagai kardiomegali. Pembesaran ruang jantung pada ASD dijumpai pada serambi kanan, bilik kanan dan a pulmonalis, yang akan nampak pada foto rontgen sebagai pergeseran batas kanan jantung ke arah kanan, apeks jantung terangkat dan bergeser ke arah kiri, corakan vaksularisasi paru yang meningkat.

ASD  ukuran kecil pada umumnya tidak memberikan gejala, sehingga seringkali tidak diketahui. ASD yang besar memberikan gejala antara lain anak tampak kurus, lebih lekas lelah bila bermain dibandingkan teman sebaya, sering terkena infeksi saluran napas (batuk yang berulang dan sulit sembuh). Kelainan pada pemeriksaan jantung seringkali tidak terlalu jelas terdengar sehingga dapat saja terlewatkan oleh dokter dan baru diketahui setelah anak bertambah besar memasuki masa remaja, karena pada saat itu anak sudah lebih aktif dan dapat menyampaikan keluhan-kelahan secara lebih spesifik. Gejala yang seringkali dikeluhkan oleh anak adalah berdebar-debar, nyeri dada terutama saat bermain, lebih lekas lelah saat bermain yang tidak seperti biasanya, sesak nafas, rasa tidak enak di dada, pingsan.

Tatalaksana, seperti tatalaksana PJB pada umumnya, seyogyanya dilakukan komprehensif. Tatalaksana definitif adalah dengan menutup defek, baik secara operatif (ASD closure) maupun menyumbat defek secara transkateter (ASD occlusion). ASD occlusion pada umumnya dilakukan pada ASD sekundum yang berukuran kecil atau sedang. ASD besar pada umumnya ditutup secara operatif. Ketersediaan tatalaksana ini bergantung kepada pelayanan masing-masing senter kesehatan. Tatalaksana medikamentosa diberikan untuk mengatasi gagal jantung. Obat-obatan ini dapat saja diberikan hingga tindakan definitif dilakukan. Tatalaksana supportif yang terutama adalah masukan makanan bergizi. Masukan makanan bergizi yang memadai ini penting untuk pertumbuhan dan daya tahan tubuh anak. Imunisasi diberikan untuk pencegahan penyakit-penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi.

Karena seringkali tidak terdiagnosis sampai anak sudah besar bahkan sudah memasuki masa dewasa, maka komplikasi-komplikasi pada umumnya telah terjadi pada saat penyakit terdiagnosis. Komplikasi yang dapat dijumpai pada anak adalah gizi kurang atau bahkan gizi buruk, pneumonia (radang paru), gagal jantung, hipertensi pulmonal. Hipertensi pulmonal pada umumnya telah terjadi bila ASD diketahui setelah anak remaja atau dewasa muda. Ibu hamil yang menderita ASD dan belum dikoreksi, pada umumnya akan mengalami gagal jantung pada saat hamil dan tidak mampu melahirkan anaknya secara spontan.

Aliran darah paru yang berlebihan membuat perubahan pada struktur a pulmonalis, mengakibatkan hipertensi pulmonal yang berat dan bersifat tidak dapat pulih kembali. Bila keadaan ini terjadi, tidak memungkinkan lagi dilakukan upaya koreksi ASD.

Apa yang dapat orangtua lakukan pada anak penyandang ASD?

  1. Berikan makanan sehat bergizi, khususnya tinggi kalori dan protein. Makanan yang sehat bergizi juga dapat menghindarkan anemia dan kekurangan mikronutrien (vitamin dan mineral)
  2. Perhatikan aktivitas fisis anak. Batasi aktivitas fisis yang berat.
  3. Infeksi saluran napas akut sering terjadi, jangan dibiarkan saja.
  4. Beritahu guru sekolah sehubungan dengan sakitnya, sehingga pelajaran di sekolah tidak terganggu.
  5. Bila mendapat obat, berikan sesuai jadwal, perhatikan kemungkinan efek samping yang muncul.
  6. Terus belajar.

Apa yang dokter keluarga dapat lakukan?

  1. Berikan edukasi tentang makanan yang sehat bergizi.
  2. Tatalaksana awal gagal jantung bila terjadi gagal jantung.
  3. Pantau efek obat gagal jantung dan efek sampingnya bila ada obat gagal jantung yang diberikan oleh spesialis/konsulen.
  4. Atasi segera bila terdapat demam atau ISPA.
  5. Rujuk setiap kasus dengan PJB untuk diagnosis dan tatalaksana definitif.
  6. Imunisasi tetap diberikan pada anak ASD, sesuai jadwal.
  7. Dukung / berikan respons positif kepada para orang tua untuk mengikuti program tatalaksana yang seringkali berat dan melelahkan.
  8. Terus belajar.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s